November 29, 2009

Belanda dalam Kepungan Air

Share this article on :
--Zeland, provinsi di ujung selatan Belanda, 1 Februari 1953. Musim dingin masih berlangsung ketika malam itu Laut Utara mengamuk dan mengirim badai. Gelombang setinggi 30 meter mengempas panntai, menghancurkan tanggul-tanggul. Air yang hampir membeku menerjang kota, menewaskan 1.835orang dan memaksa 110.000 warga mengungsi.--

Di tanah yang sama, 56 tahun kemudian. Laut Utara masih sesekali mengirim badai. Daratan di Belanda bagian selatan itu masih tetap lebih rendah daripada laut. Bahkan, perbedaan ketinggian muka daratan dibandingkan laut
terus bertambah sebagai dampak pemanasan global. Tetapi jumlah warga yang tinggal di Zeeland semakin banyak.

Mengutip pernyataan Roy Neijland, Project Officer Netherlands Water Partnership (NWP),yang mengungkapkan bahwa warga Zeeland merasa aman tinggal di kawasan itu. Proyek Delta Plan telah membentengi daratan dari ancaman Laut Utara. ROy tidak membual. Setelah bencana banjir besar tahun 1953 itu, Belanda berjuang keras memenangi "pertarungan" melawan alam. Tiga belas bendungan raksasa dibangun secara bertahap selama 39 tahun.

Bendungan pertama selesai dibangun pada 1958 di Sungai The Hollandse Ijssel, sebelah timur Rotterdam. Kemudian dibangun bendungan Thhe Ooster Dam (The Oostershcelde Stormvloedkering), yang panjangnya hampir mencapai 11 kilometer. Bendungan ini membentengi seluruh daratan Zeeland yang langsung berhadapan dengan bagian Laut Utara. Dan, bendungan terakhir yang selesai dibangun adalah The Maeslantkering pada 1997.

Siang itu matahari terik. Tetapi, suhu yang mencapai 10 derajat celcius pada pertengahan Oktober lalu mengirim angin yang mencipta gigil. Tetapi, semua terbayarkan dengan melihat keindahan konstruksi Maeslantkering yang dicipta untuk mengantisipasi bencana.

Maeslantkering dibangun di muara Niuewe Waterweg, yaitu kanal yang menjadi gerbang masuk ke Pelabuhan Rotterdam. Tanggul ini terdiri dari dua bagian lengan yang masing-masing panjangnya 300 meter. Jika diberdirikan, satu lengan setara dengan ketinggian menara Eiffle di Perancis. Kedua lengan raksasa Maeslantkering ini bisa dibuka-tutup. Komputer secara otomatis akan menutup gerbang ini jika terjadi badai dari Laut Utara mencapai ketinggian di atas tiga meter. Sejak dibangun, dam ini hanya ditutup sekali pada 8 November 2007. Selebihnya, dam ini menjadi objek wisata dan pendidikan. Tetapi, lebih daripada itu, konstruksi ini adalah bukti keseriusan negara dalam memberi rasa aman kepada warganya.

"Air merupakan bagian daripada budaya kami. Dan, kami tidak boleh kalah darinya. Air yang bisa memicu banjir harus bisa dikendalikan dan juga dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan terhadap air bersih,"ungkap Roy Neijland.

Roy seperti mewakili tekad warga Belanda dalam menyiasati alam, yang sebenarnya tak terlalu bersahabat terhadap mereka karena sepertiga daratan di Belanda lebih rendah dari muka air laut.Heemmm...bagaimana dengan Indonesia ya??

Tidak ada komentar:

Posting Komentar